Beranda Kantor Kemenag DWP Kankemenag Aceh Tengah Hadirkan Pemerhati Adat, Bahas Terlis Berume

DWP Kankemenag Aceh Tengah Hadirkan Pemerhati Adat, Bahas Terlis Berume

273
0

Takengon (inmas)— Darma Wanita Persatuan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Tengah kembali menghadirkan pembicara dari kalangan akademisi sekaligus pemerhati adat Gayo. Selasa (17/09/19) di MIN 3 Aceh Tengah.

Dalam kegiatan DWP putaran kedua itu, Dr. Zoni. M.Pd, yang merupakan seorang akademisi dan anggota Majelis Adat Gayo (MAG) Kabupaten Aceh Tengah mendapat kesempatan memberikan materi dengan tema “Terlis Berume” yang merupakan akronim dari bahasa gayo “tertib bermajelis, umet bermuliye“.

Diawal acara, Kakankemenag Aceh Tengah, Drs. H. Amrun Saleh, MA memberikan arahan dan bimbingan kepada hadirin DWP, pada kesempatan itu beliau menyampaikan bahwa DWP merupakan wadah silaturrahmi ASN juga sebagai media untuk menuntut ilmu.

“Sebagaimana kita sadari, kegiatan rutin darma wanita adalah bentuk silaturrahmi kita. Tidak hanya sebatas berkumpul, disini kita juga mengkaji berbagai materi, seperti keagamaan, adat, sosial, psikoligi dan lain-lain, sehingga dapat menambah wawasan seluruh Kepala Madrasah dan Kepala KUA juga Anggota DWP”. Pungkas Kakankemenag.

Diakhir arahannya, beliau mengomentari tentang tema yang akan dikaji, beliau berpendapat bahwa secara filosifis, “Terlis Berume” merupakan tingkatan tertinggi dari tujuan tatanan kehidupan bermasyarakat di Gayo.

“Jika dikaji lebih dalam, secara filosofis tertib bermajelis umet bermuliye merupakan Tujuan hidup tertinggi masyarakat Gayo, karena sejalan dengan ajaran syariat yang menekankan nilai – nilai Akhlaqul Karimah”. Demikian tutupnya.

Menurut Dr. Zoni, M. Pd, saat ini nilai nilai adat di Gayo Telah terkikis oleh perkembangan zaman, realita tersebut terlihat dari sistem sosial masyarakat Gayo itu sendiri, terutama bagi kalangan muda, dimana kemampuan kognitif lebih diutamakan dibanding kemampuan Spiritual. Menurutnya, setidaknya ada tiga hal yang berdampak kepada masyarakat.

“Di era modern ini dengan arus teknologi yang terus berkembang, manusia hanya berlomba untuk meningkatkan kemampuan kognirifnya saja dan mengesampingkan kemampuan spiritualnya, sehingga akan memberikan dampak negatif. Dampaknya adalah kurangnya keteladanan, kurangnya penghayatan bukan pemaknaan dan meningkatnya nafsu lawamah (materi dan jabatan)”. Demikian jelas Dr. Zoni, M. Pd dihadapan peserta DWP.

Untuk mengatasi realita tersebut, menurutnya perlu ada pendekatan dengan nilai – nilai adat (local Wishdom) yaitu dengan filosofi Terlis Berume. Dengan tujuan dapat menjadi insan yang mulia di masyarakat dan memberikan dampak positif dalam tatanan kehidupan masyarakat Gayo.

“Untuk mengatasi masalah itu, rumusnya adalah amalkan tiga unsur dan buang empat unsur. 3 unsur yang harus dilembagakan kedalam diri kita masing – masing jika kita ingin mencapai taraf kemuliaan yaitu: taat, rapi teratur, dan saling meghargai. Kemudian tinggalkan empat unsur, yaitu: sumang perceraken, sumang pelangkahen, sumang pengunulen dan sumang penengonen”.

Beliau juga berharap agar filosofi Terlis Berume dapat di adopsi kedalam sistem pendidikan di Aceh Tengah yang dituangkan kedalam kurikukum madrasah.

Acara dilanjut dengan sesi tanya jawab dengan para hadirin, dengan tujuan untuk memperdalam pemahaman dan peghayatan peserta DWP dari tema yang telah dipaparkan oleh pemateri diawal.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here